"Gila! Gue suka banget ceritanya!" demikian kata Dian pertamakali kami bertemu setelah Dian membaca sinopsis tujuh episode pertama serial Dunia Tanpa Koma.
Dian langsung saja menembakkan segala keinginannya untuk "belajar menjadi Raya". Matanya berbinar dan bicaranya tak putus-putus tanpa jeda. Dia begitu bersemangat hingga itu memompa adrenalin saya untuk segera mengerjakan skenario pilot Dunia Tanpa Koma. "Saya akan belajar jadi wartawan, saya akan mengikuti semua saran mbak Leila agar saya bisa masuk ke sosok Raya…saya ingin ke Tempo, saya akan rajin naik sepeda, saya akan fitness dan saya juga ingin membaca buku-buku yang dibaca oleh tokoh Raya."
Saya garuk kepala. Maklum, saya belum pernah bertemu dengan aktris seserius ini selain Christine Hakim. Sebelumnya, saat saya masih muda dan reporting di lapangan, terlalu banyak pemain film yang saya hadapi yang cenderung malas berpikir dan ucapan-ucapannya tak memiliki daya hidup. Main film sama seperti mengunyah tempe.
Namun untuk Dian, main film (layar lebar atau televisi) adalah sebuah arena belajar; arena mengasah diri dan mengasah hati. Dia akan banyak menuntut jawaban, tapi dia juga akan memberikan dirinya habis-habisan. Dan itu saya temukan juga di dalam Christine Hakim.
Akhirnya, karena seriusnya gadis ini, saya mengajaknya menyusun jadwal, menyusun daftar apa yang harus dilakukan. Dan yang saya katakan pertama jika ingin belajar menjadi wartawan, "belajar untuk bersikap seperti orang-orang di dunia kerja dan berbahasa Indonesia yang jelas." Saya memberi contoh, bahwa berbicara gaya wartawan media berita tak berarti harus menggunakan bahasa Indonesia yang baku dan kaku. Tapi yang jelas, para wartawan jarang menggunakan bahasa anak MTV seperti : "ih gue banget; so what gitu loh; ih, lambreta banget; garing nggak sih; pokoknya gitu deh…dan seterusnya." Kami dituntut untuk berbicara dengan kalimat yang lengkap, komprehensif dan jelas. Jika seorang wartawan berbicara dengan kalimat yang kacau, bayangkan apa jadinya tulisan kami.
Dian paham dengan penjelasan saya. Dia langsung membuat jadwal untuk menyelami kehidupan wartawan.
"Siapakah sosok Raya Maryadi di majalah Tempo?" tanya Dian.
"Tidak ada," jawab saya tegas, "itu tokoh rekaan, tokoh idealisasi. Bahkan kalau mau mencari diri saya di dalam Dunia Tanpa Koma, saya lebih mendekati sosok Mbak Retno yang bawel dan anti rokok itu. Tapi tokoh Raya sebuah tokoh fantasi murni," jawab saya jujur. Saya tekankan, seluruh cerita dan tokoh dalam Dunia Tanpa Koma adalah rekaan, fiktif. Namun memang cara kerja dan suasana rapat yang saya gambarkan terinspirasi dari majalah Tempo.
Yang pertama dilakukan Dian, adalah mengunjungi majalah Tempo. Belum-belum sudah terjadi kehebohan di dalam kantor tempat saya bekerja. Saya meminta rekan saya Nurlis Meuko, wartawan kriminalitas untuk mendampingi Dian mewawancarai berbagai tokoh.
Secara bergurau, rekan-rekan (lelaki) di jalan Proklamasi (kantor majalah Tempo) heboh dan dengan sigap membentuk "panitia penyambutan Dian Sastrowardoyo". Surat elektronik saling bersambut antar wartawan yang (lagi-lagi bergurau) menyatakan "kecemburuan" kepada Nurlis Meuko yang saya tugaskan mendampingi Dian. Sekelompok menyatakan ingin meracuni minuman Nurlis dan menyingkirkannya dari "tugas mendampingi Dian", dan sebagian menganut aliran damai dan meladeni Nurlis siang malam agar Nurlis bersedia mengajak mereka mendampingi Dian. Ada pula yang belum-belum sudah "cemburu" pada penanggungjawab rubrik seni, Seno Joko Suyono yang belajar filsafat. Semua berasumsi, pastilah Dian akan banyak berdiskusi dengan Seno, karena Dian pun mahasiswa Filsafat UI.
Suasana komedi ini sebetulnya menunjukkan bahwa wartawan media berita yang terbiasa menghadapi politikus, peneliti, narapidana, pengusaha, buron atau anggota parlemen selalu menjadi salah tingkah dan 'panik' menghadapi orang-orang dari dunia hiburan (ini tergambarkan pada episode 1 saat para wartawan Target menghadapi Mariana Renata). Menghadapi aktris atau aktor sebetulnya hal biasa, namun, karena ini "Dian Sastro", yang menurut Redaktur Pelaksana Investigasi Arif Zulkifli "bukan hanya cantik,tapi cerdas," maka suasana kehebohan di lantai 3 jalan Proklamasi memang harus ditolerir. Melihat kebahagiaan para wartawan lelaki, maka para wartawan perempuan--yang jumlahnya jauh lebih sedikit--protes: "Kami juga mau lihat Tora Sudiro dong, mbak! Nanti kami yang membimbing dia jadi wartawan!"
Dian Sastrowardoyo datang pada sebuah siang, lengkap dengan "seragam" seorang reporter. Jins, t-shirt yang casual, sepatu kets dan tas gantung dari kanvas. Anggota redaksi mendadak jadi pendiam dan manis menyaksikan Dian bergabung di ruang rapat redaksi. Tak ada lagi yang konsentrasi, dan tak ada pula yang peduli dengan isi rapat dan bahkan tak ada yang peduli apakah Bos masuk atau keluar ruangan. Di ruang rapat ada Dian, kapan lagi ini terjadi.
Semua ingin tahu kalimat apa yang akan meluncur dari gadis cantik ini.
Ternyata Dian memperlihatkan sikapnya yang sangat santai, ramah sekaligus mengeluarkan pernyataan yang cerdas. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan padanya dijawab dengan tangkas. Dia ikut makan siang bersama para wartawan dan ngobrol dengan beberapa rekan. Kami mengajak dia berkeliling ke setiap divisi di kantor kami, termasuk foto dan desain. Dian juga sangat memperhatikan bagaimana kantor kami membagi ruangannya menjadi ruangan smoking dan non smoking. Dengan segera dia mengetahui "sumber" inspirasi saya untuk tokoh mbak Retno, seorang wartawan senior yang sangat anti rokok.
Siang itu, Nurlis dan saya sudah berjanji menemui Direktur Narkoba Polda Metro Jaya Komisaris Besar Carlo B.Tewu untuk sebuah wawancara. Dian ikut dengan kami.
"Hallo…..lagi belajar jadi wartawan?" kata Bang Carlo, demikian kami memanggilnya, sambil menyalami Dian.
Pertanyaan demi pertanyaan yang meluncur dari mulut Dian memperlihatkan dia sangat paham peta tempat "dugem" (ini singkatan dari "dunia gemerlap", maksudnya club tempat anak muda nongkrong dan berdansa) anak-anak masakini. Dia juga menanyakan teknik apa yang digunakan polda dalam menekuk jaringan yang sangat kompleks ini.
Setelah kami selesai mewawancarai Bang Carlo, kami diajak menemui para serse yang sedang rapat. Isinya puluhan serse lelaki bertubuh tegap yang menjawab seluruh pertanyaan kami. Di ruang lain, kami diperlihatkan bagan jaringan narkoba yang sudah ditemukan oleh polda metro Jaya.
"Apakah saya harus memotong rambut? Harus belajar mengetik?" tanya Dian.
"Wartawan tidak bisa mengetik 10 jari. Mereka mengetik 11 jari," kata saya. Dian tertawa berderai. Rambut, terserah, kata saya. Tapi yang jelas, karena Raya seorang reporter kriminalitas yang sering di lapangan, sebaiknya rambutnya lebih sering dikuncir, karena Jakarta panas.
Yang pasti, jangan tampil terlalu modis dan mewah karena wartawan majalah berita bukan seorang model. Wartawan cenderung tak punya waktu untuk ke salon kecuali kalau sudah terpaksa. Tapi tak berarti dia tampil kumel. Wartawan mewakili institusinya, jadi dia tetap rapi, tapi tidak glamour. Dian mematuhi saran saya. Dia tak mementingkan untuk tampil "cantik", karena dia seorang aktris yang mementingkan seni peran.
Selama syuting yang dimulai tanggal 20 Oktober 2005 hingga Mei 2006, Dian bukan saja menjelma menjadi Raya Maryadi, tetapi dia kemudian menjadi "co-partner" saya yang ikut merawat dunia yang bernama Dunia Tanpa Koma ini. Selain sutradara dan kru yang memiliki semangat, stamina dan pengabdian yang luarbiasa; para pemain lain yang sungguh serius, adalah Dian yang menjadi 'adrenalin' sekaligus 'sumber inspirasi' saya setiap kali saya macet menulis.
Saat saya mulai "blank", sesekali saya mampir ke tempat syuting, melihat Dian, Tora, mas Slamet, Indra dan Wulan beraksi, maka segera berkelabatanlah adegan-adegan episode berikut di kepala saya. Mereka seolah menjadi "media" yang membantu saya melanjutkan episode-episode berikut yang harus saya selesaikan. Terkadang melihat chemistry antara Dian dengan pemain lain membuat saya membelokkan cerita. Misalnya setelah saya melihat episode 1 selesai, tokoh Markus (diperankan dengan cemerlang oleh Indra) sungguh menawan. Peran Markus kemudian menjadi penting dan berkembang pada episode-episode perkosaan dan pembelaan tentang hak karyawan perempuan. Chemistry antara Dian dan Indra jelas terlihat seperti sepasang kawan akrab (mereka memang sudah bersama-sama main dalam film Bintang Jatuh arahan Rudi Soedjarwo).
Tora, seperti juga Dian, juga menjadi sosok inspirasi. Setiap kali melihat aktingnya, maka muncul kelebatan-kelebatan di kepala saya.
"Buku-buku dan film apa yang harus saya pelajari?" tanya Dian. Saya kemudian memberi daftar bacaan dan dvd yang harus dimiliki. Bahkan buku tentang Tempo berjudul The War Within karya Janet Steele saya kirimkan padanya. Beberapa buku sastra yang menjadi referensi dalam serial ini juga saya sarankan agar dia baca (pada episode 8,9 dan 10 korban perkosaan Monita tengah membaca sebuah novel tentang korban perkosaan).
Saya juga menyarankan dia menyaksikan semua film "wajib" para wartawan seperti All the President's Men, The Insider, Shattered Glass dan seterusnya. Tetapi selain itu, Dian saya minta untuk rajin menyaksikan serial televisi favorit saya agar ia memiliki referensi umum seperti CSI, Alias, CSI Miami dan Law and Order. Saya heran dan kagum, setengah tak percaya, melihat totalitas seorang gadis muda (yang usianya 23 tahun) bukan hanya pada perannya sendiri, tapi bahkan pada seluruh isi produksi.
Di kemudian hari, kami mulai memiliki perasaan yang sama terhadap serial ini: kami tak ingin meninggalkannya. Saat syuting sudah mulai mendekati akhir, airmata Dian mengucur begitu saja. "Saya sedih, karena ini sudah mau selesai…." Dian memang cepat sekali tersentuh.
Mungkin suatu hari saya akan kehilangan seorang Raya, tapi saya telah mengenal seorang Dian.
Leila S.Chudori
|