EDDIE KARSITO sebagai LAMHOT
Karakter Lamhot seperti apa?
Lamhot ini preman. Saya pikir ini karakter umum sebetulnya. Artinya dunia preman ini bukan sesuatu yang baru. Dimana saja sebetulnya ada komunitas preman. Ada preman marjinal, ada juga preman berdasi. Kebetulan di film ini saya memerankan preman yang kehidupannya sangat keras. Di pasar.
Tantangan memerankan Lamhot?
Tantangannya ya karena saya Jawa. Mendadak saya disuruh berperan jadi orang Batak. Sangat sulit bagi saya untuk menghilangkan medok Jawa saya. Saya coba belajar dari teman-teman saya yang Batak. Saya juga pernah tinggal di Sumatera, tapi kan tinggal di Sumatera tidak terlalu membantu, sama seperti saya sudah 30 tahun di Betawi, saya tidak pernah jadi Betawi. Tetep Jawa. Itu satu tantangan. Tapi saya belajar.
Salah satu budaya Batak yang saya coba pahami adalah cara mereka berdialog yang selalu tinggi. Kalau ngomong tuh ngotot, keras. Kesannya keras. Tapi sebetulnya orang Batak itu umumnya, sangat toleran, solider, pertemanannya bagus. Betapa pun dari caranya berdialog, kesannya kasar.
Membangun chemistry antar karakter gimana Mas?
Kalau di sini kan saya lebih banyak beradu dengan Butet (Shanty). Kalo dengan Ringgo buat saya nggak terlalu sulit untuk membangun kerjasama dalam berakting. Sebelumnya kan saya sudah main bareng dengan dia, jadi langsung match aja gitu, nggak ada masalah. Sama Shanty pun enak ya. Shanty cukup rendah hati, dan dia mau belajar, mau diskusi. Dia juga cukup akrab, sehingga tidak menyulitkan saya.
Ada hal-hal menarik selama syuting?
Biasa aja siy. Yang pasti siy capek, karena adegannya harus lari-lari, dan saya sebelumnya nggak pernah olahraga. Terus ada adegan berantemnya juga, kan ceritanya preman pasar tuh. Yah gitu lah, cukup menguras tenaga.
lanjut >>
|