MONTY TIWA sebagai SUTRADARA, IDE CERITA & PENULIS SKENARIO, dan PENATA MUSIK.

Kenapa akhirnya memutuskan untuk menyutradarai film ini?
Ini udah tahap berikut dari karir saya kayaknya. Saya rasa sudah harus seperti ini. Seakan-akan  bukan saya yang manggil kegiatan menyutradarai, tapi menyutradari itu yang memanggil saya. Karena saya udah nyoba lumayan banyak, ngedit, penata suara, skenario, nanti berikutnya apa lagi?!..
Tapi intinya, kalau kita bikin sesuatu, kita ingin meneruskan itu sampai akhir. Kalau film itu kan sebuah karya atau anak. Kalau kita melahirkan anak, kan pasti pengen ngeliat dia sampai SMP, sampai kuliah. Analogi yang sama, ketika saya bikin skenario, kayaknya kalau cuma ngelahirin doang kok kayaknya nggak puas gitu. Pengen ngeliat dia masuk SD, SMP, SMA. Jadi sekarang kayak gitu, dari level yang pas saya melahirkan skenario, pengen lihat gitu sampai dewasanya skenario. Sampai tumbuh jadi produk akhir. Dan satu-satunya yang bisa membuat saya ke arah situ, mau nggak mau, mungkin harus ikut men-direct.

Cerita film ini seperti apa?
Ceritanya cukup kurang ajar, seperti film-film yang lain. Hehehe. Dengan judul-judul yang tidak berbudaya. Saya berpikir, daripada bikin film yang judulnya puitis-puitis tapi hasilnya mengecewakan, mendingan yang judulnya norak, jelek, tapi begitu orang nonton, yaa okelah. Nggak menang di Oscar atau di Cannes, tapi kalau udah bisa menghibur penonton, pahalanya banyak. Hahaha…

Nggak takut dilarang beredar kayak film Pocong?
Saya rasa masyarakat udah pinter, makin tahu banyak, makin minta hak untuk tahu banyak. Jadi saya tidak terlalu takut sebenarnya. Kalau misalnya film ini dilarang, sama halnya ketika Pocong 1 dilarang, saya cuma bisa pasrah aja. Nggak mau ngomel-ngomel, nggak mau marah, tapi bikin film aja terus. Ya kita liat aja, siapa yang capek duluan. Mereka yang ngelarang, atau saya yang bikin. Tapi kalau cuma gara-gara itu kita takut berkarya, kan jadi nggak ada pergerakan.

lanjut >>