
Novi & Mitzy | Rudi Soedjarwo | Monty Tiwa | Mira Lesmana | Titi Kamal | Kinaryosih | Dwi Sasono
 |
Wawancara dengan
Monty Tiwa
Ide cerita & penulis naskah Mendadak Dangdut |
SUDAH BERAPA LAMA NULIS?
Menulis skenario secara profesional, dari tahun 2002 sih yang pertama kali Andai Ia Tahu. Setelah itu aku bikin Biarkan Bintang Menari, itu yang masih di Trans TV. Terus di RCTI bikin FTV yang Juni di Bulan Juli. Abis itu layar lebar Vina Bilang Cinta. Terus ada layar lebar lagi, Dunia Mereka. Terus 9 Naga dan Mendadak Dangdut ini.
ADA 3 JUDUL YANG DIAJUKAN KE SINEMART, ITU SEMUANYA DARI MAS MONTY?
Yang dua iya, “Maaf, Saya Menghamili Istri Anda” dan “Mendadak Dangdut”. Kalo yang “Pocong”, itu judulnya dari Rudi, ide cerita dari saya.
DAPAT IDE UNTUK JUDUL “MENDADAK DANGDUT” ITU DARI MANA, KARENA CUKUP CATCHY YA?
Idenya sih sebenernya dari 9 Naga. Itu kan film yang cukup menguras emosi. Nah, itu tuh mempengaruhi mood kita semua. Akhirnya, untuk keluar dari situasi seperti itu, waktu itu kita bener-bener melakukan segala cara. Apa pun, segala macam humor kita coba untuk deketin, salah satunya dengan lagu pasti. Mulai ada denger lagu-lagu dangdut, aku pribadi suka banget dengan PSP, terus Warkop dengan lagu-lagu awalnya di Dongkrak Antik, yang generasi itu lah, yang “Andeca Andeci”. Terus gue puter di Paso lagu-lagu itu. Tujuannya ya untuk mengembalikan mood, karena kita kan waktu itu setuju kita harus move on.
Next project ada lagi sebetulnya, tapi karena keterusan humornya, jadi kita decide, kayaknya mood kita lagi di sini. Jadi kita bikin sesuatu yang komedi aja gitu. Untuk Rudi, komedi itu kan sesuatu yang baru. Yang dia belum pernah coba sebelumnya. Mendadak sekali kan?!
Nah dari situ sebetulnya aku dapet ide untuk sebuah cerita. Dari film maker-nya saja, dia bikin film ini adalah sesuatu yang mendadak. Jadi apa pun yang kita bikin harus dalam atmosfir itu. Jadi ada karakter yang mendadak ngapain. Nah, kebetulan pada saat itu dangdut ada di situ.
Satu lagi juga, memang kita tetep pengen ada idealismenya. Meskipun kita mencoba bersahabat dengan pasar, tapi tetep harus ada idealismenya. Jadi idealismenya adalah, di Indonesia ini kan salah satu masalah paling utama adalah banyaknya perbedaan dan ketidakmampuan untuk menyikapi perbedaan kan. Itu masalah yang paling utama menurut kita yang lagi up to date banget. Mendadak Dangdut adalah tentang hal itu, Ketidakmampuan menyikapi perbedaan dan menghargai perbedaan. Bagaimana kita mengambil contoh yang paling pop, kesombongan yang komunitas non dangdut melihat dangdut, karena beda, dianggap low, dianggap tidak berkelas, padahal kan sebenarnya tidak begitu. Semua musik pada dasarnya bagus, cuma masalah selera. Karakter Petris (Titi Kamal) di sini mewakili ketidakmampuan menyikapi perbedaan itu.
KAPAN MEMUTUSKAN MENDADAK DANGDUT DIJADIKAN FILM?
Kalo nggak salah, akhir Maret, awal April. Jadi itu sebetulnya kita lagi mempersiapkan untuk film lain, bukan komedi, seperti layaknya film-film Rudi, drama yang berat. Terus, lagi di Paso, secara angin lalu gue cerita ke Rudi tentang ide cerita ini. Terus denger cerita itu Rudi ketawa sampe ngakak. Dan dia ngerasa bahwa baru denger cerita kayak gitu aja, mood-nya langsung berubah dan dia happy sama mood yang itu. Dia mau tangkep itu, dia mau salurin ke film. Akhirnya, singkat cerita dia minta dibuatin sinopsisnya. Langsung gue bikin malem itu. Dua hari kemudian, dia ke Sinemart, dia presentasiin itu, pengen liat reaksi dari Sinemart, kalo cocok, dia pengen banget kerjasama dengan Sinemart. Dan ternyata gayung bersambut, akhirnya dibuat. Jadi proses ide cerita itu emang mendadak banget, nggak dipersiapkan sama sekali.
DARI CERITA MENDADAK DANGDUT, MENURUT MAS MONTY, APA SIH SESUATU YANG KUAT, YANG INGIN DI SHARE KE PENONTON?
Kalo ada satu hal tentang film ini yang ingin di share adalah, bahwa kita pengen kasih liat bahwa film yang idealis, yang punya pesan, bermuatan positif, tidak harus selalu film yang berat. Selama ini kan ada anggapan bahwa film yang berat adalah idealis. Banyak anggapan bahwa film idealis itu selalu film-film festival, film berat yang harus mikir. Ini jadi salah anggapan yang terlalu general. Idealis itu adalah ketika idenya nyampe ke masyarakat. Artinya penyampaian ide itu, packaging-nya tuh penting. Bagaimana harus sedekat mungkin dengan masyarakat, artinya harus pop, harus main stream. Anggapan selama ini, kalo pop, main stream, itu bukan idealis. Film yang pop, yang main stream dalam waktu yang bersamaan bisa idealis. Kita bikin film yang berat, film festival, tapi yang nonton cuma 10 orang, itu menurut gue gagal. Itu bukan idealis yang sebenarnya, tapi bagaimana lo bisa ngerangkul lebih banyak penonton yang ngerti sama ide lo. Itu idealis. Itu idealis yang sukses dan itu yang kita coba di Mendadak Dangdut. Film tuh memang alat komunikasi yang mempunyai kandungan seni.
CERITA TENTANG TIGA KARAKTER UTAMANYA, BAGAIMANA PROSES PENULISANNYA, RESEARCH-NYA?
Karakter-karakternya sendiri, kalo research pasti ya, tapi research itu tidak diadakan bersamaan dengan pembuatan film. Karena, sebagai penulis skenario, research itu sudah kita lakukan sejak lahir. Dari beribu-ribu karakter yang pernah kita temui dalam perjalanan kita, itu kan secara langsung otak kita udah menyerap dan me-research karakter-karakter yang seperti apa. Jadi membangun karakter itu adalah karakter-karakter yang sudah pernah saya temui sepanjang perjalanan hidup. Dan mereka memang ada. Tinggal di-combine, bagaimana karakter-karakter itu bisa menyatu di satu cerita.
KARAKTER PETRIS ITU GIMANA MAS?
Sedikit banyak, ada karakter saya juga ditaro di PETRIS. Dulu, saya sempat seperti itu memang, dan gua rasa sih banyak orang yang bisa memposisikan dirinya sebagai PETRIS. Semua orang pasti pernah merasa sombong terhadap sesuatu, yang dia miliki, apa yang dia mampu. Dan itu adalah PETRIS. Bedanya dalam karakter PETRIS sangat ekstrim. Di setiap hari dia bersifat seperti itu sehingga dia merupakan duri dalam daging untuk orang di sekelilingnya. Dan untuk bisa relay ke PETRIS, sebetulnya kalau mau jujur, penonton tinggal lihat ke diri mereka. Pasti ada sifat-sifat dari PETRIS di diri mereka. Sebaliknya juga dalam diri masing-masing orang akan ada bagian-bagian sifat dari karakter Yulia, kakaknya yang lembut, mengayomi. Tinggal masalah komposisinya berapa banyak. Jadi, dari situ sebetulnya harapan gue sih penonton bisa melihat komposisi mana yang harusnya lebih banyak di diri mereka.
KALO KARAKTER RIZAL?
Karakter Rizal tuh egosentris banget. Dia kan yang selalu memandang bahwa dunia berputar di tengah-tengah dia. Dan dia adalah matahari. Jadi kalo mau dipikir-pikir, sebenarnya semua karakter yang ada di Mendadak Dangdut, ada semua di diri kita. Harapan gue sih semoga penonton akan bisa sangat relay dengan karakter-karakter Mendadak Dangdut, karena itu sangat human. Secara nggak langsung, harusnya mereka bisa lihat bahwa ada bagian dari mereka di situ.
PEMAINNYA KAN UDAH DAPET, TITI SEBAGAI PETRIS, KINARYOSIH SEBAGAI YULIA, DWI SASONO SEBAGAI RIZAL, DLL. MENURUT MAS MONTY SEBAGAI PENULIS, MASING-MASING ORANG INI UDAH MENGGAMBARKAN KARAKTER-KARAKTER DI FILM NGGAK? SESUAI GAK DENGAN BAYANGAN KETIKA MAS MONTY MENULIS SKENARIO?
Untuk pertama kalinya, dari semua skenario yang pernah gue bikin, sangat jujur gue katakan kali ini, semua pemainnya berhasil deliver apa yang skenario inginkan. Semua karakternya mereka mainkan dengan sangat pas, tanpa berlebihan, tanpa kurang. Dan itu memuaskan banget bagi tim produksinya ketika ngeliat.
Menurut gue ini salah satu keberhasilan Rudi karena akting pemain kan ada di tangan sutradara. Bagi gue, dia salah satu sutradara di Indonesia yang paling paham, bagaimana memaksimalkan pemainnya. Semua pemain yang ada di tangan dia pasti akan bersinar. Kita lihat banyak kasus para pemain yang bersinar di tangan dia, tapi di tangan sutradara lain, kurang. Jadi kredit yang harus diberikan, kalau pun ada keberhasilan dari pengkarakteran, itu seratus persen di Rudi, karena berhasil memaksimalkan pemain-pemain.
LAGU-LAGU DAN LIRIK DARI LAGU-LAGU DI DALAM FILM KAN YANG BIKIN MAS MONTY, ITU GIMANA PROSESNYA?
Lirik dan sebagian besar musik juga. Prosesnya cepet banget, gampang banget. Kan kalo kita udah suka sama sesuatu, udah enjoy, udah masuk ke emosi, ke jiwa, apa pun yang kita bikin, reaksinya pasti akan cepet. Dan mood dangdut itu emang udah masuk ke kita sejak akhir Maret itu. Dan kebetulan referensi kita memang PSP (Pancaran Sinar Petromak), Warkop generasi awal, dimana dangdut mereka tuh masih setia ke dangdut dasar beat-beat melayu yang banyak memakai pantun-pantun. Tapi di satu sisi, lirik-lirik nya tuh sangat nakal, liar dan kadang-kadang tidak logis. Tetapi itu menjadi tidak penting ketika tujuan utamanya adalah untuk memancing tawa kan. Dan gue rasa itu cukup berhasil di musik-musiknya Mendadak Dangdut. Dan justru kita mengisi kekosongan di genre dangdut itu sendiri dimana dangdut lima tahun terakhir ini terlalu penuh dengan dangdut yang terlalu serius. Padahal tujuan utama dangdut kan menghibur sebetulnya.
BISA CERITAIN SEDIKIT KIRA-KIRA KENAPA MAS MONTY MENGAMBIL KESIMPULAN SEPERTI ITU, BAHWA DANGDUT ADALAH UNTUK MENGHIBUR?
Kita lihat dari musik dangdut itu sendiri, tidak seperti musik pop yang cepat sekali perubahannya, setiap dua minggu selalu ada lagu baru. Kalo dangdut, di setiap pementasan, paling lagu Rhoma lagi atau Meggy Z. Artinya, sirkulasi lagu dangdut itu tidak secepat pop. Apa yang dikejar, ketika penonton selama lima tahun masih bisa bergoyang dengan lagu yang jadul. Mereka tetep bisa bergoyang. Artinya, selama lagu itu bisa membuat mereka bergoyang, bisa menghibur, it doesn’t matter apakah itu lagu lima tahun lalu, sepuluh tahun lalu. Beda dengan pop. Pop kadang-kadang tidak lagi mementingkan unsur menghibur, tapi itu kadang-kadang adalah statement of lifestyle. Para ABG, biar dikatakan cool, up to date, mereka denger misalnyta Peter Pan atau lagu-lagu independent keluaran Aksara yang sangat brit pop. Kenapa itu laku dan sukses saat ini, karena itu statement of lifestyle. Artinya, anak muda merelasikan dirinya dengan lagu-lagu itu karena itu cool. Dangdut nggak seperti itu, yang penting bisa bergoyang. Dari situ bisa ditarik kesimpulan bahwa dangdut tujuan utamanya untuk menghibur, bukan statement of lifestyle, dimana kalau kita dengerin dangdut supaya dibilang cool.
MAS MONTY KAN BIKIN SENDIRI BEBERAPA ARANSEMENNYA. MAS MONTY ADA BACKGROUND DI MUSIK?
Kebetulan, sebelum secara profesional menulis, gue pemusik juga, sempet aktif di band, waktu kuliah di Amerika. Sempet ngeluarin album lah segala macem gitu. Tapi keputus untuk balik ke sini dan akhirnya jadi penulis.
GIMANA SAMPAI ADA KETERLIBATAN NANDA NURIL DAN UKI NURIL?
Kenapa kita sangat membutuhkan Nanda dan Uki, karena segala macam musik yang ada di kepala gua lebih banyak berbentuk konsep, lebih ke Melody di kepala gitu. Tapi untuk menuangkannya jadi musik jadi, level musikalitas gua belum mencapai itu. Jadi bener-bener butuh musisi yang handal, yang bisa menerjemahkan musik yang ada di kepala gue ke sebuah bentuk jadi. Di situ mereka berperan sangat besar untuk merealisasikan konsep musik dari gua.
ALASAN MAS MONTY AKHIRNYA MEMILIH MEREKA?
Yang pasti karena udah comfort dengan pribadi mereka dulu, Karena mereka memang teman lama. Tapi dari situ, gue juga sangat tahu kemampuan mereka, kapasitas mereka secara musik. Kalau memang gua melihat mereka nggak mampu, gue juga pasti nggak berani, karena ini kan pertaruhannya besar. Tapi karena gue udah tahu mereka, level musikalitas mereka seperti apa, gue yakin mereka bisA men-deliver dan terbukti bisa, bahkan sampai memuaskan sekali.
HARAPAN MAS MONTY TERHADAP FILM INI?
Secara garis besar, harapanku adalah, semoga penonton lebih welcome sama film Indonesia lagi. Kalo level untuk menghibur penonton, kita pasti udah sangat bisa menghibur penonton. Untuk lebih majunya lagi, harapanku adalah semoga film ini bisa membuat penonton lebih sadar bahwa film Indonesia tuh punya sesuatu yang tidak dimiliki sama film-film barat. Sesuatu itu adalah, identitas mereka ada di situ. Jadi, ketika menonton Mendadak Dangdut mereka akan liat diri mereka sendiri. Artinya mereka bisa mengidentifikasi. Nah artinya, itu kan nggak pernah bisa mereka lakukan dengan menonton film-film Bruce Willis, Tom Cruise atau Harry Potter.
Jadi, ada bagian dari diri kalian di film ini. Kalau mau liat bagian yang mana, dan apakah itu positif atau negatif, nonton aja. Film ini mencoba untuk menjadi mereka di level-level tertentu