Kalau Cinta Jangan Cengeng : Bisakah Ringgo dan Marshanda Berubah?
11 Feb 2009
Proses produksi film ini dimulai Maret 2008 dan selesai tahun lalu pula. Jeda yang begitu lama dari pascaproduksi menuju penayangan dilatarbelakangi beberapa faktor. Menurut Marshanda, salah satu faktornya timing. Gampang-gampang susah, apalagi menjelang akhir tahun imej yang melekat pada diri Chacha bukannya junkie melainkan gadis alim bernama Madina. Maka pilihan tanggal rilis jatuh pada bulan kedua 2009. Haru-biru perjuangan cinta dengan konfliknya dinilai cocok untuk mengantar masyarakat masuk ke Bulan Kasih Sayang.
Rasanya, proyek cinta ini tak main-main. Di departemen skenario, Sinar Ayu Massie dan Titien Wattimena memperkuat Monty Tiwa. Sinar mengemas plot dan membangun kerangka drama. Titien yang dikenal mumpuni meracik dialog-dialog efektif pembangkit chemistry menjalankan fungsi ini dan mempercantik fondasi yang dibangun Sinar. Monty dikenal trengginas menabur kelucuan hampir di setiap filmnya. Langkah yang cenderung protektif dan ingin mengurangi risiko. Tapi terasa wajar ditempuh Monty, mengingat Kalau Cinta Jangan Cengeng menjadi proyek drama pertamanya setelah terbiasa menggarap dagelan dan horor.
Boy (Ringgo) dan manajernya, Ahmad (Sasono), baru saja pulang dugem. Dalam perjalanan pulang di tengah derai hujan. Boy menabrak sebuah mobil. Dua nyawa melayang. Sejak tragedi itu, Boy menyewa jasa sopir untuk mengantarnya beraktivitas. Kesibukan lain Boy, menjadi artis duta narkoba. la sering mengunjungi pusat rehabilitasi. Di sana Boy bertemu Yani (Marshanda), pengguna narkoba dengan perilaku yang sangat temperamental. Kegigihan Boy perlahan membuahkan hasil, meski pacarnya, Luna (Wimala) tidak menyukai kesibukan baru Boy. Apalagi memergoki Yani tinggal di rumah Boy. Suasana semakin runyam, saat Ahmad menuntut keadilan dan membeberkan rahasia yang terpendam selama lima tahun pada Yani.
Peran Ahmad dipercayakan pada Dwi Sasono yang tampil kalem namun paham betul bagaimana menunjukkan perubahan kepribadiannya ke arah lebih baik. Peristiwa batin yang berbanding terbalik dengan kondisi keluarganya. Yang paling digadang-gadang melakukan perubahan tentu anak kesayangan ibu peri, Marshanda. Penampilannya di film ini menjawab keraguan penonton termasuk tim SinemArt. Chacha terlihat semakin kurus berkat kostumnya yang kumal dan sangat longgar. Dari mulut Yani, Chacha mengumbar umpatan dan puluhan kata-kata kasar. Karakter Yani mengemban beban berat. Tanpa orangtua, terjebak dalam narkoba, dan hidup susah, semua diintepretasikan dengan sekuat tenaga. Seandainya Monty mau memperlihatkan proses kesembuhan Yani lebih detail, bisa dipastikan penampilan Chacha sekian kali lipat lebih dahsyat!
Jika parameter keberhasilan film ini dilihat dari penampilan tokoh utamanya, Monty tidak bisa dibilang gagal. Pilihannya yang jatuh pada duo Ringgo-Chacha tergolong mengejutkan. Kekhawatiran publik pada imej banyolan Ringgo dan muka baik-baik Chacha telah terjawab. Kalau Cinta Jangan Cengeng akan dicatat sebagai langkah maju Monty, la terlihat lebih rapi dalam membidik maupun menyusun gambar dan adegan. Komposisi warnanya lebih cerah, dan semakin cerah berkat penampilan beberapa komedian macam Tessy dan aktor Rifnu Wakana yang pintar melucu juga. Usaha keras Monty-Chacha-Ringgo bersama krunya ditopang strategi marketing dan timing yang ditepatkan.