Mimpi menjadi artis terkenal belum terwujud, Oki sudah memutuskan berjilbab, Akibatnya beberapa tawaran main film yang ada di depan mata urung diberikan. Namun, takdir sudah tersurat. Films KCB membutuhkan artis berjilbab dan Oki terpilih jadi pemeran utama. Namanya kini melambung. Dua penghargaan pun diraihnya.
Jatuh-bangun meraih mimpi menjadi artis terkenal di Jakarta tak pernah kukabarkan pada keluarga di Batam. Termasuk selama enam bulan kasting, tak satu pun yang berhasil. Atau saat sakit, aku harus berobat ke dokter sendiri. Sebaliknya, yang kuceritakan hanya hal-hal manis dan membahagiakan saja. Sejujurnya saat aku berjuang keras itu, aku merasakan rindu yang amat pada keluarga di rumah. Aku pun menyibukkan diri menjadi guru mengaji.
Untunglah, perjuanganku di Jakarta mulai berbuah. Aku berhasil mendapat kesempatan main di FTV meski hanya beberapa adegan saja.
Betapa bahagianya saat itu, meski syutingnya berlangsung hingga jam 4 pagi. Aku pulang dari lokasi syuting naik angkot bersama para penjual sayuran! Hanya beberapa jam kemudian aku harus berangkat ke sekolah. Saat itu, air mataku menetes. Sungguh keras nian perjuanganku di Jakarta, sekadar meraih impian menjadi artis.
Sayangnya kabar buruk kuterima. Ibu menderita penyakit Psoriasis Vulgaris. Aku sangat terkejut kala bersua Ibu di Jakarta. Kondisinya tak secantik dulu. Kulit putihnya berubah kusam. Akulah yang menemani serta merawat Ibu di rumah sakit dan tempat kosku. Tiap pagi aku sekolah seperti biasanya. Pulang sekolah merawat Ibu. Bila Papa menelepon, kukabarkan yang terbaik tentang Ibu.
Mulai Berjribab
Bagiku Ibu adalah sosok luar biasa yang mengajarkan arti keikhlasan dan kesabaran. "Bila mau membantu Ibu, jadilah anak-anak yang salehah." Oleh karena ingin jadi anak salehah, tahun 2005 aku memutuskan berjilbab.
Tak lama kemudian, aku menerima telepon tawaran syuting di FTV. Tidak hanya satu, tapi lumayan banyak dan tanpa melewati kasting! Ketika kru film kukabari bahwa aku telah berjilbab, sebagian ada yang mencaci dan "mengutuk" aku tak akan pernah menjadi artis. Ada pula yang menawariku berakting pakai wig alias rambut palsu. Kuanggap semua itu hanya ujian imanku.
Jadi semua keinginan itu kutolak. Jujur, aku sedikit syok tak bisa mendapatkan pekerjaan itu. Untuk menghibur hati, aku mengikuti lomba debat Bahasa Inggris sampai tingkat provinsi. Aku juga fokus ke sckolah dan melupakan dunia entertainment.
Selulus SMA, aku diterima di Fakultas Sastra Belanda Universitas Indonesia. Aku sempat bercita-cita menjadi dosen dan mengejar beasiswa. Apalagi Indeks Prestasiku juga mencapai nilai cum laude.
Aku pun berubah menjadi aktivis di kampus dan semakin memperdalam agama. Seiring berjalannya waktu, Ibu juga berangsur-angsur sehat, dan aku makin serius kuliah.
Pada 2008, ketika sedang rapat di musala kampus, teman-teman mengabarkan ada audisi film Ketika Cinta Bertasbih (KCB). Mereka mengajakku ikut audisi, tapi aku menolak karena sudah mulai melupakan dunia film. Namun, teman-teman terus mendesak dan meyakinkanku bahwa gadis berjilbab bisa berprestasi.
Akhirnya aku ikut audisi. Niatanku, andai ini jalan yang terbaik buatku dan mendatangkan kebaikan buat masyarakat, aku memohon kepada Allah untuk dimudahkan jalanku. Tapi bila bukan duniaku, dan tidak membuatku baik, aku akan melanjutkan mimpiku menjadi dosen.
Aku ikut audisi bersama 7 ribu orang yang diadakan di 9 kota, termasuk di Kairo. Alhamdulillah audisi berjalan mulus. Ketika ikut audisi, aku memilih peran sebagai Husna, meski temanku bilang aku pas menjadi Anna. Aku memandang Husna dari sosok yang kurang baik menjadi baik.
Ada kesamaan tokoh Husna denganku yakni menyukai cerpen dan puisi. Sementara Anna, bagiku terlalu sempurna. Sejak kecil Anna sudah tinggal di pesantren. Sungguh, aku terkejut sekali ketika pada akhirnya aku mendapat peran Anna.
Tiga Tokoh Berjasa
Berkat KCB aku mengenal kota-kota di Indonesia. Aku melakukan oadshow di 25 kota termasuk bisa bertandang ke Kairo. Aku senang melalui semua itu.
Anehnya, aku sempat merasa grogi saat pertama kali syuting megafilm KCB. Salah satunya ketika aku diminta menangis. Hingga suatu sore penulis novel KCB, Kang Abik, mendekatiku dan mengata-kan, "Bermainlah dengan hati. Sesuatu yang dikerjakan dengan hati akan sampai di hati." Nasihat itu kupraktekkan. Benar saja, aku bisa menangis.
Kang Abik, salah seorang yang membawa pengaruh luar biasa ter-adapku. la orang yang sederhana dan tawadu (rendah hati. Red).
Tapi ia juga humoris. Tiap kali syuting, banyak hal yang membuatku tertawa. Menurutku, beliau selalu menggambarkan karakter tokoh-nya amat kuat sehingga membuat orang iri dan ingin seperti karakter tokoh itu.
Sosok lain yang sangat berjasa dalam karierku adalah Bunda Neno Warisman. Pak Khairul Umam atau biasa dipanggil Pak Mamang, juga mau menunjukkan bagaimana akting yang benar, ekspresinya harus begini atau begitu. la mencontohkannya sendiri.
Berkat bantuan orang-orang besar itu, aku berhasil meraih dua penghargaan di Indonesia Movie Award, sebagai pemain terbaik dan terfavorit. Alhamdulillah.
(NOVA, Edisi 1170, 26 Juli - 1 Agustus 2010)